Feeds:
Posts
Comments
memory 2008

memory 2008

Setelah kompetisi Guru Berprestasi, berbagai hal masih bisa dilakukan untuk lebih mengoptimalkan peran kita sebagai pendidik sehingga bisa saling berbagi kabar, info, ide menuju guru yang profesional dalam membentuk generasi mendatang yang lebih baik

Memuliakan Guru

guru.jpg Memperbaiki mutu pendidikan harus dimulai dari memuliakan guru. Dan, martabat guru sangat ditentukan oleh kompetensi, dedikasi, dan
remunerasinya.

Continue Reading »

politik.jpgPraktik politik yang seringkali didominasi trik, intrik, dan konflik telah menyebabkan politik berkonotasi negatif. Konotosai seperti itu muncul karena politik oleh sebagian besar pelakunya dimaknai secara sempit sebagai sekadar ’siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana? Continue Reading »

uang.jpgKepala Subdirektorat Analisis Konsistensi Statistik, BPS Dalam Pidato Kenegaraan beberapa waktu lalu, presiden mengumumkan RAPBN tahun 2008. Satu hal yang perlu dicermati dari pidato itu adalah menurunnya alokasi anggaran untuk pendidikan.

Continue Reading »

Buku-buku MURAH India

buku.jpgAtase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus Sartono, MBA, menyampaikan kepuasannya atas selesainya penyelenggaraan Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2007 di Sydney, pekan lalu, yang antara lain merekomendasikan perlunya ketersediaan buku-buku bacaan dan literatur internasional terbaru dengan harga murah di Tanah Air.

Kepada antara yang menghubunginya dari Brisbane, Selasa, Agus mengatakan, rekomendasi KIPI yang diikuti sekitar 220 utusan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dari Belanda, India, Italia, Jepang, Malaysia, Mesir, Australia itu akan sangat mendukung upaya meningkatkan minat baca anak-anak dan pelajar di Tanah Air.

“Dalam hal ini, India adalah salah satu contoh negara yang berhasil dalam penyediaan buku-buku dan literatur berharga murah ini. Melalui publisher (penerbit) internasional yang bekerja sama dengannya, India mencetak buku-buku referensi asing di dalam negeri dengan harga yang murah. Hal ini tentu sangat mendukung upaya meningkatkan minat baca anak anak dan pelajar,” katanya.

Agus mengatakan, dari KIPI 2007 yang berlangsung di kampus Universitas New South Wales (UNSW) pada 8-9 September itu, terungkap pula pandangan bahwa Indonesia bisa belajar dari pengalaman India dalam memanfaatkan “brain drain” untuk memajukan negaranya. Sebagian peserta konferensi bertema “Membangun Daya Saing Bangsa:  Menetap di Luar Negeri atau Kembali ke Tanah Air” itu justru melihat Indonesia bisa belajar dari India yang memiliki lebih dari 200 assosiasi di luar negeri, katanya.

“India bahkan memanfaatkan potensi warga India di luar negeri. Oleh karena itu Indonesia harus memanfaatkan jejaring pelajar Indonesia di luar negeri dan tidak perlu ada dikotomi antara tinggal di luar negeri dengan nasionalisme,” katanya. Terkait dengan masalah ini, para peserta KIPI juga melontarkan pemikiran tentang perlunya mengotimalkan peran dan jejaring pelajar Indonesia di luar negeri.

Mereka juga merekomendasikan perlunya memberikan insentif berupa pembebasan biaya fiskal kepada para pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri, dan menghidupkan kembali pinjaman siswa (student loan) mengingat semakin mahalnya biaya pendidikan sehingga tidak semua putra bangsa yang cerdas mampu melanjutkan studinya.  Peserta KIPI 2007 juga merekomendasikan agar pilihan pelajar untuk tetap bekerja di luar negeri tidak disikapi secara negatif atau pun ancaman terjadinya “brain drain”, katanya. “Pertanyaan yang menggelitik sempat terlontar.

Jika mampu mengekspor tenaga terdidik lebih banyak mengapa tidak dilakukan? Karena selain mendatangkan devisa, (pengiriman lebih banyak tenaga kerja terdidik itu) juga dapat menghilangkan ’stereotyping negative’ (anggapan negatif) tenaga kerja Indonesia akibat massifnya pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI).” “Rekomendasi yang penting lainnya adalah Pemerintah diminta tidak lagi memberikan apresiasi yang lebih tinggi kepada ekspatriat (pekerja asing) dibanding dengan tenaga kerja dan ahli domestik meskipun kemampuannya sama,” katanya.

Agus selanjutnya mengatakan, masalah strategis lain yang perlu mendapat perhatian adalah soal perlunya penyederhanaan proses penyetaraan ijazah lulusan luar negeri karena selama ini, alumni luar negeri sering mengalami kesulitan dalam mendapatkan penyetaraan gelar akademik yang diperoleh.  “Mengapa proses penyetaraan ijazah ini tidak diserahkan saja kepada Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di masing-masing negara?” tanya Agus.

Para peserta KIPI 2007 juga mengusulkan perlunya urusan perguruan tinggi dilakukan oleh departemen tersendiri dan urusan pendidikan dasar serta menengah dikelola tersendiri.  Dengan demikian pengelolaan pendidikan akan lebih terfokus, katanya. Ketersediaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, serta pendanaan untuk kegiatan riset juga merupakan rekomendasi penting lainnya yang dihasilkan dari KIPI 2007, katanya.

Mengenai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menerima para peserta KIPI 2007 di Hotel Four Seasons Sydney tempatnya menginap selama mengikuti pertemuan puncak Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), Agus mengatakan, arahan Kepala Negara tentang nasionalisme tidak harus diartikan secara sempit patut diperhatikan.

“Nasionalisme tidak bisa diukur dengan keberadaan seseorang. Artinya pilihan untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya atau tetap bekerja di luar negeri dalam kaitannya membangun daya saing bangsa tidak perlu diperdebatkan apalagi dikaitkan dengan wacana nasionalisme,” katanya.

Dalam acara pertemuan para peserta KIPI 2007 dengan Kepala Negara yang berlangsung di “Ballroom” Hotel Four Season itu, hadir antara lain Menlu Nur Hassan Wirajuda, Mensesneg Hatta Radjasa, Menpora Dr. Adhiyaksa Dault, Menteri KLH, Ir. Rachmat Witoelar, Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu T.M Hamzah Thayeb, Konsul Jenderal RI di Sydney, Sudaryomo, serta ibu Lastry Thayeb dan sejumlah staf KBRI Canberra. antara/mim

 

Sumber:  http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=306605&kat_id=248

Foto: the-prasetyos.net

SEBUAH ruangan dipenuhi para guru dan kepala sekolah. Mereka sedang berdiskusi tentang cara agar guru bisa menumbuhkan dan mengembangkan potensi murid-muridnya.

Dalam diskusi itu muncul pengakuan sangat menarik dari seorang guru. ”Saya sudah jadi guru selama lima tahun dan saya merasa berdosa. Saya adalah seorang guru matematika. Selama ini saya hanya memindahkan catatan saya ke mereka. Padahal, kelas adalah tempat siswa untuk mengembangkan dirinya,” ujar guru yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Yang dikatakan guru itu mungkin juga dilakukan dan dirasakan guru-guru lain yang hanya familiar dengan metode ceramah. Padahal, metode itu hanya cocok untuk anak-anak pintar. Padahal, dari sekitar 40-an siswa di kelas, hanya tiga atau empat yang tergolong pintar.

Diskusi dengan topik ”Building Highly Effective Educators” tersebut digelar oleh Sampoerna Foundation Teacher Institute (SF-TI) pada Jumat (10/8) lalu. Topik ini diambil karena tiap individu memiliki cetak biru dalam mengarahkan hidupnya. Begitu pula guru. Sebagai pengajar dan pendidik, mereka juga harus paham atas aturan-aturan yang mereka miliki, sehingga perannya bisa lebih efektif.

Awalnya, diskusi dibuka dengan menonton film dokumenter tentang pemenang Nobel Perdamaian 2006 asal Bangladesh, M Yunus. Menurut pemateri Agi Rachmat, melalui film itu diharapkan peserta tahu bahwa setiap orang dapat melakukan perubahan. M Yunus melakukan perubahan dengan memberi kredit pada orang miskin, sehingga jumlah mereka berkurang.

”Apakah menjadi guru adalah pilihan Anda?” tanya Agi.

”Ya!” jawab beberapa peserta dengan lantang.

”Anda yakin?”

”Ya!”

”Kalau jadi miliarder, mau nggak?” tanya Agi, yang juga konsultan pendidikan itu, kembali.

Kali ini Peserta mulai-ragu-ragu menjawabnya. ”Kalau Anda cocok dengan kerja tersebut, Anda tak akan pernah mengeluh,” kata Agi. ”Begitu juga jadi guru. Kalau suka, Anda harus live with it. Kalau tidak, leave it. Kalau nggak happy, ya jangan jadi guru.”

Menurut Agi, ada tiga hal di dunia ini yang tak pernah berubah. Pertama adalah proses perubahan itu sendiri. Jadi, katanya, perubahan adalah hal yang mutlak.

Kedua adalah prinsip. ”Orang yang malas pasti bodoh. Orang yang rajin dan kerja keras pasti berhasil,” tutur Agi.

Yang ketiga adalah selalu ada pilihan dalam dua hal tadi.

Saat ini kualitas manusia Indonesia ketinggalan jauh dengan bangsa lain. Dulu, cerita Agi, jika Indonesia dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, orang selalu menjadikan ukuran negara sebagai alasan. Tapi, sekarang itu tak berlaku lagi. Lihat saja China.

”Jumlah penduduk mereka 10 kali lebih besar, tapi toh bisa teratur dan rapi. Mereka bisa membuat apa pun lebih murah dan ada kualitasnya. Bahkan, nilai ekspor China bisa mencapai US$2,3 miliar,” kata Agi.

Meski begitu, Indonesia masih bisa unggul lewat industri kreatif. Itu hanya bisa dibangun jika pengetahuan bisa ditingkatkan. Lagi-lagi, semuanya terletak pada peran guru. Agi menyebutkan konsep 3 M milik Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), yakni mulai dari diri sendiri, mulai sekarang, dan mulai dari hal kecil. Namun, Agi mengubah konsep itu menjadi 3 S, yaitu sendiri, sekarang, dan sekecil-kecilnya.

Mengapa begitu? Sebab, demikian Agi, selama ini manusia selalu merasa terkungkung oleh tiga determinisme. Pertama adalah determinisme genetik. ”Karena kita orang Melayu atau karena kita orang Indonesia, maka kita tak bisa lakukan itu. Padahal, kita semua punya modal yang sama, yaitu 23 kromosom.”

Yang kedua adalah determinisme psikologi. Menurut Agi, jangan sampai ada angapan guru tak bia menjadi orang hebat. Toh selama ini sudah ada bukti sebaliknya. Ia kemudian menyebut beberapa nama, seperti Jenderal Sudirman dan Ki Hajar Dewantara.

Ketiga adalah determinisme lingkungan sekitar. Oleh karena itu, Agi menyarankan agar seorang pengajar tidak terpaku pada lingkungannya saja. Seorang guru harus
bisa mencari nilai tambah yang ada dalam dirinya dan menggunakan nilai itu untuk berubah. Seperti M Yunus yang menggunakan nilai itu untuk mengubah kemiskinan di negaranya. Itulah yang harus dicontoh guru.

”Kalau Anda punya satu keinginan untuk mengubah generasi, katakan itu dengan tegas. Ucapan adalah energi, maka harus hati-hati untuk mengucapkannya. Jangan pernah sekalipun berpikir negatif,” tutur Agi.

Ia menyarankan para guru mencari suara hati mereka terhadap profesi yang sedang mereka jalani. ”Apa benar jadi guru adalah panggilan hati Anda? Kalau ya, maka gunakanlah itu untuk mengubah bangsa ini.” (Ika Karlina Idris)

Dimuat di Jurnal Nasional, Senin, 13 Agustus 2007.

Sumber: http://ikotmemberi.blogspot.com/